
Bayangkan kita punya kemampuan membuat mesin bekerja sesuai perintah, memecahkan masalah kompleks, bahkan menciptakan masa depan— itulah kekuatan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA).
Kabar baiknya,
kini hadir dalam mata pelajaran pilihan di sekolah.
Namun masih banyak yang berpikir ilmu ini sulit, karena terlanjur membayangkan KKA adalah barisan kode-kode rumit.
Apakah kamu juga berpikiran demikian?
Pikiran semacam ini menghambat kita belajar menguasai skill paling dicari di abad ke-21. Karena tanpa pemahaman dasar Koding dan Kecerdasan Artifisial, kita akan tertinggal jauh di era digital dan teknologi otomatisasi di berbagai industri.
Perhatikan data yang saya dapat ketika mengikuti kegiatan TOT (Training of Trainer) Calon Fasil Dikdasmen, di Grand Sahid Jaya Hotel Jakarta pada tanggal 10 sd 14 Juni 2025 lalu.

Berdasarkan Future of Jobs Surveys 2025,
core skills tahun 2025 mencerminkan pesatnya kemajuan teknologi, khususnya pada AI dan big data.
Lanjut…
World Economy Forum tersebut memperkirakan, 10 keterampilan berkembang paling cepat tahun 2030. Dimana AI dan big data memuncaki posisi pertama.

Lalu yang jadi pertanyaan kita,
Apakah kita masih ingin menjadi penonton atau pembelajar untuk menyiapkan diri menghadapi masa depan?
Menurut saya, menjadi pembelajar adalah pilihan terbaik.
So, ayo kita mulai perjalanan menyelami Koding dan Kecerdasan Artifisial!
- Apa sih KKA?
- Apa yang Dipelajari pada Mapel ini?
- Dampaknya untuk Peserta Didik?
- Plug dan Unplugged
- Contoh Proyek KKA yang dibuat Siswa?
- Bagaimana KKA Bisa Membantu Anak Saya yang Cita-Citanya bukan jadi Programer (Misalnya Dokter, Guru, atau Seniman)?
- KKA Mengajarkan Etika Digital? Bagaimana Anak-anak Dijamin Tidak Menyalahgunakan AI untuk Hal Curang atau Negatif?
- Di Usia Berapa Sebaiknya Anak Mulai Belajar Koding dan Konsep Dasar AI? Apakah Terlalu Cepat jika Dimulai Sejak SD?
- Aplikasi yang bisa digunakan untuk belajar koding
1. Apa sih KKA?
KKA itu sendiri diajarkan mulai kelas lima SD atau fase C mulai tahun ajaran baru 2025/2026. Kemudian lanjut diajarkan kelas enam di tahun ajaran berikutnya.
Meski begitu, selama ini prinsip pembelajarannya sudah diterapkan sejak PAUD.
Lah kok sejak PAUD?
Iya, kamu tidak salah baca, mulai jenjang PAUD.
Karena jenjang PAUD selama banyak kegiatan bermain belajar yang melatih logic anak-anak seperti: permainan menyusun balok kayu, menyusun warna, mengerjakan LK dan lain-lain.
Semua itu termasuk pembelajaran koding, metode unplugged.
Nanti saya jelaskan lagi pada point berikutnya.
2. Apa yang Dipelajari pada Mapel ini?

Berdasarkan Nasmik di Kurikulum Kemdikbud, KKA fokus pada 6 elemen.
Keenam elemen tersebut antara lain:
- Berpikir komputasional,
- Literasi digital,
- Literasi dan etika AI,
- Pemanfaatan dan pengembangan AI,
- Algoritma pemograman, dan
- Analisis data
Tambahan informasi, KKA ini bukan mata pelajaran wajib, tetapi mata pelajaran pilihan. Jadi bisa diajarkan dengan mengintegrasikan dengan mata pelajaran lain. Artinya guru mapel lain, boleh menggabung dengan mapel ini. Sehingga tidak harus guru tersendiri mengajarkan KKA jika memang tersdia guru yang bisa khusus mengajarkannya.
Opsi lain, mapel ini jika tidak dijadikan mapel pilihan, atau pun diintegrasikan dengan mapel lain, boleh dijadikan kegiatan kokorikuler ataupun ekstrakurikuler.

3. Dampaknya untuk Peserta Didik?
Dampak pembelajaran KKA pada peserta didik sangat besar dan positif, karena:
- melatih berpikir logis sistematis,
- meningkatkan kemampuan memecahkan masalah secara efektif, serta
- bersikap bertanggung jawab dan bijak dalam penggunaan teknologi
Agar mereka memiliki kesiapan lebih baik menghadapi dunia kerja digital yang makin maju dan kompleks.
KKA juga membantu personalisasi pembelajaran,
… maksudnya menyesuaikan materi dengan kebutuhan tiap siswa. Dengan begitu, akan meningkatkan keterlibatan aktif peserta didik di kelas.
Selain itu, penguasaan KKA akan memperluas peluang karier di bidang teknologi. Karena Peserta didik diajari bukan hanya pengguna, tapi juga pencipta inovasi yang dapat bersaing secara global di era digital.
4. Plugged dan Unplugged
Pelajaran KKA tidak semata-kata harus menggunakan perangkat laptop, handphone, internet atau alat IT yang menggunakan listrik (plugged). Namun di mapel ini bisa menggunakan metode unplugged.
Maksudnya bagaimana?
Artinya segala pembelajaran yang tidak menggunakan alat teknologi yang menggunakan tenaga listrik. Contohnya kegiatan pembelajaran olahraga berikut yang diintegrasikan dengan KKA.
Inilah yang saya maksud di point 3 di atas bahwa, KKA juga membantu personalisasi pembelajaran. KKA bisa menyesuaikan materinya dengan kebutuhan tiap peserta didik, bisa menyesuaikan dengan ketersedian media yang ada, dan bisa diintegrasikan dengan mapel lain.
Contoh lain metode unplugged, dengan memanfaatkan LK yang bisa dibuat di canva yang hasilnya berupa game koding unplugged.
Untuk membuatnya sangat mudah. Bisa menggunakan aplikasi Canva AI, lalu pilih Template, dan tinggal beri prompt. Hasilnya tinggal print dan bagikan ke peserta didik.
5. Contoh Proyek KKA yang dibuat Siswa?
Untuk Jenjang SMP dan SMA sudah mulai memanfaatkan robotik.
Nah ini menarik.
Materialnya menggunakan lego yang bisa dibuat sebagai projek seperti: membuat mobil yang otomatis mengikuti jalur, alat angkut sederhana, robot industri, dll.
Sedangkan koding penyusun KA nya, menggunakan koding blok, yang cara kerjanya sangat mirip scratch. Tidak memikirkan baris kode, tapi tinggal susun blok logic nya. Sehingga sangat membantu anak-anak, karena belajar koding lebih mudah.
6. Bagaimana KKA Bisa Membantu Anak Saya yang Cita-Citanya bukan jadi Programer (Misalnya Dokter, Guru, atau Seniman)?

Ingat, belajar KKA bukan berarti menyiapkan anak menjadi programer cilik.
Namun mendidik anak sejak dini agar memiliki cara berpikir kritis, sehingga menjadi modal anak untuk menghadapi masa depannya.
Pekerjaan apa pun membutuhkan kompetensi tersebut.
Contoh saja, seorang dokter harus memiliki kompetensi dasar berpikir komputasional. Salah satu pilarnya dekomposisi.
Implementasinya: ketika mengobati pasien, maka harus memecah menjadi beberapa masalah lebih kecil untuk diselesaikan, seperti:
- tindakan apa yang harus dilakukan,
- obat apa yang diberikan,
- makanan apa yang boleh dikonsumsi,
- langkah apa selanjutnya harus dilakukan pasien, dll.
Bagi yang bertanya-tanya, berpikir komputasional ini apa sih?
Jadi berpikir komputasional adalah berpikir seperti halnya komputer.
Maksudnya bagaimana?
Jadi ada 4 pilar, antara lain:
- Dekomposisi (memecah masalah besar menjadi bagian-bagian kecil)
- Pola (menggunakan cara sama agar bekerja lebih efektif)
- Abstraksi (fokus pada bagian penting)
- Algoritma (langkah demi langkah)
Nah, dalam mapel KKA ini tidak lepas akan prinsip berpikir komputasional tersebut. Tujuannya agar anak-anak yang sedari kecil memiliki kesiapan mampu berpikir mengatasi segala permasalahan yang mereka lalui, dalam menghadapi masa depannya sendiri.
7. KKA Mengajarkan Etika Digital? Bagaimana Anak-anak Dijamin Tidak Menyalahgunakan AI untuk Hal Curang atau Negatif?
Banyak sekali orang tua memiliki ketakutan, anak-anak jika diajarkan teknologi akan jatuh dalam hal negatif.
Karena memang apa pun saat ini dengan mudahnya diakses melalui gadget dan internet.
Makanya salah satu elemen KKA adalah etika digital. Karena selama ini tuh kita lebih banyak fokus ngajarkan teknisnya teknologi. Kita lupa untuk menekankan pentingnya etika.
Etika tidak hanya sopan santun berbicara dengan orang lebih tua, tapi juga dalam berteknologi. Seperti:
- menyadari pentingnya hak cipta,
- plagiarisme,
- keamanan data,
- bersosial media, dan lain-lain.
8. Di Usia Berapa Sebaiknya Anak Mulai Belajar Koding dan Konsep Dasar AI? Apakah Terlalu Cepat jika Dimulai Sejak SD?

Seperti yang saya ulas di atas, pemerintah melalui mapel KKA menerapkan sejak fase C atau kelas 5 SD.
Namun untuk konsep dasarnya semestinya sejak dini, karena kita sebagai guru atau orang tua bisa memanfaatkan metode unplugged.
Mulai dari kegiatan sederhana, seperti mengajak anak-anak bermain permainan simple yang mengasah logic-nya.
Jadi usia belajar koding dan konsep dasar AI pada dasarnya diajarkan sedini mungkin. Bukan berarti mengajarkan baris-baris kode. Tetapi logic Koding dan AI melalui permainan sederhana.
Intinya anak-anak belajar cara mikirnya. Bukan baris-baris kode rumit.
9. Aplikasi yang bisa digunakan untuk belajar koding
Banyak sekali aplikasi yang bisa kita manfaatkan di luar sana.
Untuk tahap pembelajaran awal PAUD, salah satunya bisa menggunakan game yang dibuat di Canva Kode seperti Game Balap ayam cerdas ini (karya Pak Bahri Guru SDN Tanjung Nyiur Kec. Pulau Sembilan) .
Untuk jenjang SD, SMP, SMA bisa berkresasi dengan aplikasi berikut:
Dan masih banyak lagi game maupun alikasi di luar sana, baik untuk melatih koding maupun KA. Jadi, kembali ke diri kita masing-masing mau atau tidaknya belajar.
Penutup
Kesembilan poin di atas merangkum betapa krusialnya peran mata pelajaran KKA dalam menyiapkan fondasi digital bagi generasi muda. Di tengah arus disrupsi yang kian kencang, literasi teknologi bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan kebutuhan primer untuk bersaing di kancah global. Besar harapan kita agar sistem pendidikan di Indonesia terus bertransformasi secara dinamis, mampu mengadopsi inovasi terbaru, serta menutup celah keterbelakangan teknologi secara efektif.
Semoga dengan penguatan kurikulum yang relevan, Indonesia tidak hanya menjadi penonton kemajuan zaman, tetapi tumbuh menjadi pusat inovasi yang disegani. Mari kita dukung langkah nyata menuju pendidikan yang lebih modern, inklusif, dan melek teknologi demi masa depan bangsa yang gemilang.

Tinggalkan Balasan